Header Ads

Beginilah Keistimewaan Dua Waktu Pada Surat Ad-dhuha


 Allah Subhanahu wata’ala menggunakan beberapa waktu sebagai sumpahNya sehingga menjadi penamaan beberapa surat dalam Al-Qur’an diantaranya adalah Al-Lail, Ad-Duha, Al-Asr, Al-Fajr. Sesuatu yang dijadikan sumpah oleh Allah Subhanahu Wata’ala maka hakekatnya memiliki makna yang dalam, memiliki sesuatu yang besar dan luar biasa. Begitu juga dengan waktu yang dijadikan sumpah-Nya berarti waktu memiliki sesuatu yang sangat istimewa.


Kita batasi pembatasan materi malam hari ini dengan membahas  tiga ayat pertama pada surat Ad-Duha perhatikan ayat berikut :

وَالضُّحَىٰ ﴿١﴾‏ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ﴿٢﴾‏ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ﴿٣﴾

Artinya : “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu…” (QS. Ad-Duha ayat 1-3)

Berdasarkan tafsir Fizhilalil Qur’an salah satu sebab turunya surat ini adalah karena wahyu lama tidak turun lagi. Pada kondisi tersebut Rasululah shallallahu alaihi wasallam sedang mengalami tekanan dakwah yang begitu massif oleh kaum kafir qurais saat itu, diantaranya adalah siksaan beberapa sahabatnya, hinaan, cacian bahkan ancaman pembunuhan. Pada saat itu orang-orang kafir qurais mencemoohnya dengan “ Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya”. Dengan lama wahyu tidak turun maka Rasul pun lama tidak berjumpa dengan Malaikat Jibril a.s. sebagai penasehat dan oase motivasi.


Maka dari itu saat kondisi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengalami tingkat tekanan dan kesedihan yang sangat dalam Allah Subhanahu Wata’ala mengobatinya, dan menghiburnya dengan turunya surat Ad-Duha yang diawali dengan dua sumpahNya pada ayat ke satu dan kedua.


Penulis mengamati sesuatu yang unik dan istimewa dari dua waktu yang mengawali surat tersebut, waktu yang saling bertolak belakang satu sama lain.

Ayat  1 : “Demi waktu duha”

Waktu duha  adalah waktu yang saat itu peredaran  matahari  sedang naik sekitar pukul 06.30 – 11.30, pada waktu tersebut memiliki suasana yang sangat tenang untuk mengisi qalbu yang gundah gulana. Namun melihat kenyataan yang ada saat ini waktu duha menjadi waktu yang sangat krusial, sempit, dan hampir semuanya terburu-buru karena manusia sedang  sibuk dengan urusan dunia. Kesibukan di pasar, kesibukan  di perjalanan dengan hiruk pikuk kemacetan, kesibukan kantor dengan segudang  proyek besar. 

Maka barangsiapa pada hiruk-pikuk kesibukan  tersebut dapat  meluangkan waktunya untuk Allah Subhanahu Wata’ala dengan  menunaikan sholat duha maka ia akan mendapatkan ketanangan,  kunci-kunci kesulitan, obat-obat kesusahan sehingga menjadi suplemen keberkahan dalam malalui segala ujian dan kesulitan.


Ayat ke 2 : “dan demi malam apabila telah sunyi”

Waktu malam identik dengan  waktu yang gelap gulita, sunyi dan dingin. Setelah seharian manusia mengalami hiruk-pikuk kesibukan dan urusan dunia, maka malam gelap dan sunyi tersebut sebagai pelampiasan atas lelahnya disiang hari bahkan  enggan untuk beranjak dari selimut karena matanya yang berat.  Ada rahasia besar dan dahsyat yang hendak Allah berikan kepada hamba-hambaNya yang kuat melawan lelahnya, dinginnya, ngantuknya dan rapatnya selimut malam dengan bangun menunaikan qiyamullail (tahajud). Karena hakekatnya sholat malam akan menjadi ukuran keimanan seseorang dalam menentukan  hari-hari berikutnya.


Melihat dua waktu diatas adalah memiliki sisi waktu yang saling bertolak belakang yaitu waktu duha manusia yang sibuk dengan urusan dunia dan waktu malam manusia yang sibuk dengan pelampiasan kelelahannya. Padahal dua waktu tersebut jika digunakan untuk  sholat duha dan sholat malam maka akan menjadi energi dan suplemen hati, jiwa dan spiritualnya.


Ayat ke 3 : “Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu…”

Pada hakekatnya surat ini diperuntukan kepada baginda Rasululah shallallahu alaihi wasallam, namun tentunya juga berlaku bagi umatnya. Barangsiapa umatnya yang selalu menjaga sholat fardunya, sholat duha dan sholat malamnya maka sesungguhnya Allah tidak akan meninggalkannya, tidak pula membiarkannya saat sedang mengalami kesulitan, kesedihan dan tekanan. Allah akan selalu memberikan solusi atas setiap permasalahannya, sebagaimana perkataan seorang ulama (Ust. Sulton Hadi) yaitu “sebelum engkau jauh-jauh mencari solusi atas permasalahanmu maka perbaikilah sholatmu”, Wallahu alam. [Agung Tazka] 

Comments
0 Comments
Facebook Comments by comments

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.