Header Ads

Kebumen dari Masa ke Masa


Beberapa kali saya pulang kampung halaman persisnya di desa Ori Karang Malang kecamatan Kuwarasan kabupaten Kebumen. Tapi baru kali ini saya mencoba untuk menuliskan. Tulisan ini dibuat hasil dari  pandangan kacamata dan pengamatan saya, selain itu tulisan ini bagian dari oleh-oleh inspirasi dan renungan buat saya. 

Setidaknya ada banyak perubahan yang terjadi antara tahun sembilan puluhan hingga dua ribuan. 


Mungkin ada yang akan mengatakan, "ya dulu dan sekarang ya pasti beda dan berubah, masa sih harus disama-samain." Atau mungkin ada yang mengatakan, "iya sih benar juga, memang beda anak dijaman kita dengan jaman sekarang". Apapun pandangannya tulisan saya ini adalah bagian dari hasil pengamatan saya pribadi.

Ada beberapa perubahan yang menurut saya sangat terasa seiring dengan pertumbuhan teknologi saat ini, diantara adalah :


1. Kultur ketimuran masyarakat Jawa : entah mengapa saya merasakan kultur ketimuran khususnya masyarakat Jawa mulai tergerus. Semasa kecil dulu para orang tua selalu mencontohkan kepada anak-anaknya tentang arti kepedulian dengan sesama, guyup rukun, gotong royong dan prinsip unggah-ungguh, tepo sliro antara yang muda dengan yang tua atau terhadap yang seusia.


Pemandangan yang terlihat saat ini adalah anak-anak muda yang cuek bebek, tidak peduli dengan lingkungan dan sibuk dengan urusan masing-masing


Ada beberapa analisa saya terjadi hal demikian, diantaranya yang pertama adalah telah wafatnya para orang tua sebagai soko guru yang menanamkan prinsip tersebut. Yang kedua tidak diwariskan atau dilanjutkan kembali oleh generasi sesudahnya atau mungkin hal tersebut sudah dianggap kuno dan ketinggalan jaman.


2. Pergeseran Sosial : saya teringat pesan orang tua dulu, bahwa kita tidak boleh minder dengan status sosial, tidak usah malu dengan keadaan, tidak usah malu dengan profesi kita sebagai petani, tidak boleh gengsi dengan pekerjaan kita, yang penting halal dan barokah.


Pesan tersebut selalu teringat oleh saya hingga sekarang. Bahkan jaman dulu orang tua punya prinsip banyak anak banyak rezeki. Sehingga berapapun jumlah anaknya selalu merasa yakin dan punya harapan bahwa anak-anak sudah diatur rezekinya. Makanya orang tua jaman dulu tidak mau ambil pusing, yang penting menggarap sawah atau kebun dan dapur ngebul.


Makanya jaman dulu walaupun anak laki-laki juga diajarkan mencuci, memasak, mengerjakan pekerjaan dapur lainnya selain pekerjaan di sawah.


Anak SMU jaman sembilan puluhan mengendarai sepeda ke sekolah itu hal yang biasa. Namun sekarang anak SMU memakai sepeda ke sekolah menjadi sesuatu yang langka, bahkan ada beberapa anak SMP malah sudah difasilitasi kendaraan bermotor.


Namun kondisi sekarang berubah, anak-anak jaman now sudah gengsi ke sawah, sudah gengsi memasak, atau pekerjaan kasar lainnya. Mereka menganggap bahwa pekerjaan itu tidak bernilai, sehingga mereka hanya berharap semuanya serba instant dan cepat, sehingga lagi-lagi orang tuanya yang harus mengerjakan semuanya.


3. Pergeseran moral : jaman dulu begitu mudahnya memberi nasihat kepada anak-anak, begitu mudahnya mengajak anak mengaji ke langgar (mushola), begitu banyaknya anak-anak yang masih berjibaku terlibat dalam urusan agama dan adat istiadat bersama orang tua dan masyarakat.


Namun sekarang pergeseran moral hampir menyamai dengan anak-anak muda perkotaan. Sulitnya mengajak anak mengaji bersama, sulitnya mengajak anak terlibat pada pekerjaan orang tua di sawah, tinggal sedikitnya yang masih mau mendengarkan nasihat/petuah orang tua.

Kreatifitas dan inovasi anak-anak muda sudah tergerus oleh jaman, bahkan banyak diantara mereka menjalani perilaku konsumtif.


Setidaknya ada 5 hal yang mempengaruhi perilaku anak-anak muda baik di perkotaan hingga di pedesaan, faktor-faktor tersebut adalah : 1) pengaruh budaya; 2) tuntutan gaya hidup; 3) terlena media sosial; 4) haus akan pengakuan diri; 5) kemudahan berbelanja.


Kalau sudah seperti ini dikhawatirkan akan lahir generasi yang lemah, mengekor, tidak kreatif, dan cenderung ketergantungan dengan keadaan.


Ternyata benarlah dalam teori generasi, bahwa anak-anak kita hari ini disebut generasi strawberry, generasi yang cerdas, pintar, menguasai teknologi namun lemah secara mental dan moralnya. Dan benarlah bahwa ini bagian dari target Ghoswul Fikri yaitu merusak moral generasi tanpa batas waktu dan tempat.

 [AgungTazka, Pantai Suwuk (08/03/2021)]

11 komentar:

  1. dan itu terjadi tidak hanya di Kebumen sepertinya, di kampung saya juga perlahan tapi pasti budaya-budaya semacam itu mulai tergerus

    BalasHapus
  2. Ooh ternyata benar yah...
    Pemandangan yang menjadi lazim dijaman now

    BalasHapus
  3. Berarti di setiap kampung sprt itu yaa..sy pikir di kampung sy aja ( ciamis) pas sy plg kampung sy lihat persis yg di ceritakan mr Agung. Skr plg kampung berasa plg ke kota..

    BalasHapus
  4. Degradasi moral anak muda sudah menghawatirkan..

    BalasHapus
  5. Perubahan yang pasti terjadi, positif atau negatif?

    BalasHapus
  6. Prihatin pak melihat generasi sekarang.. Sama di daerah kmi pun demikian.Semoga kita sebagai guru dan orang tua mampu mewarisi nilai2 budaya nenek moyang dulu..unggah ungguh dan tepo sliro..

    BalasHapus
  7. Itulah kenyataan yang terjadi, namun masih banyak juga yang anak- anak muda yang peduli,semoga semakin bertambah.

    BalasHapus
  8. Sepertinya di Lombok juga tidak beda jauh, Pak Agung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itulah kondisi yang ada saat generasi muda. Guru sangat berperan penting

      Hapus
  9. Bagaimana cara mengatasinya pak Agung. Biar generasi strawberry menjadi lebih tegar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawabannya boleh pak ngundang saya ngisi untuk orang tua murid

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.